Hari pahlawan menyisakan banyak kenangan bagi rakyat
Indonesia. Banyak ragam peristiwa yang terjadi pra kemerdekaan yang patut
dikenang. Tidak terkecuali bagi umat Islam Indonesia. Perjuangan rakyat
Indonesia dalam mengusir penjajah Kristen Portugis-Belanda adalah sesuatu yang
begitu memukau bagi rakyat Indonesia. Karena bagaimanapun, perjuangan umat
Islam di Indonesia tidak bisa dinafikan.
Beragam perlawanan patriotik melawan kaum kafir ,
Belanda dan Portugis bangkit dari generasi Islam. Salah satu contohnya, pejuang
Islam dari kerajaan Islam Demak Bintoro. Sejarah mengenalnya dengan Pangeran
Sabrang Lor, Pangeran yang menyeberangi lautan sebelah utara. Bisa
dikatakan beliaulah yang pertama kali mengibarkan bendera jihad melawan
Portugis setelah Sultan Mahmoed, raja Aceh dikalahkan oleh Portugis (1511).
Sebenarnya beliau memiliki nama yang sangat Indah, diambil dari nama salah
seorang nabi Allah, Yaitu Yunus. Lengkapnya Adipati Yunus.
Berawal dari ambisi Portugis untuk menyebarkan Kristen
dan keserakahan mereka ingin menguasai selat malaka. Portugis mengacaukan jalur
perdagangan Demak, merampas rempah-rempah pedagang muslim yang berniaga di
Malaka.
- Saifuddin Zuhri, dalam bukunya, “Sejarah Kebangkitan Islam” (hlm.394) menuturkan, “Sultan Demak dan para wali merasa terpanggil untuk berjihad; halus dihadapi dengan halus dan keras dihadapi dengan keras. Kalau orang-orang Portugis mengobarkan semangat perang salib, maka kesultanan Demak dan para wali mengobarkan semangat jihad, perang sabil. Kalau ‘salib’ menjadi slogan kaum sana (Portugis), maka jihad ‘sabil’ menjadi slogan kaum sini.
Menghadapi Portugis itu, orang-orang demak
memandangnya sebagai suatu jihad, untuk melindungi kawan-kawannya (muslim),
harta benda, agama (Islam), nyawa, kehormatan dan generasi penerusnya.”
Tujuan akhir dari jihad mereka adalah antara dua
kemuliaan; kemenangan dan kebebasan menjalankan syari’at Islam atau syahid
sebagai syuhada’. Rasululla saw bersabda,
“Barangsiapa
yang terbunuh untuk membela hartanya ia syahid, barangsiapa yang terbunuh
karena membela darah(kehormatan)nya ia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena
membela diennya maka ia syahid dan barangsiapa yang terbunuh karena membela
keluarganya maka ia syahid.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi –hasan shohih-)
Dua kali Pangeran Sabrang Lor memimpin jihad melawan
Portugis dengan angkatan lautnya yang gagah perkasa. Dan pada serangan terakhir
beliau syahid di laut, sebuah syahadah yang tinggi derajatnya.
Kemudian jihad melawan Belanda dilanjutkan oleh para
Sultan sepeninggalan beliau rhm. Diantaranya adik kandung beliau yaitu Sultan
Trenggana yang bahu membahu dengan dua ulama; Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus
dalam melawan penjajah Portugis.
Para Mujahid Agung Dari Timur
Kepulauan Maluku, oleh para ahli sejarah diyakini
sebagai nama yang diwariskan oleh para saudagar dari Arab yang menemukan
kepulauan yang begitu indah dengan kekayaan alam yang luar biasa. Lalu mereka
menyebut kepulauan ini dengan ‘maluk’ berasal dari kata ‘milkun’ artinya
kepemilikan, yaitu kepulauan ini memiliki keindahan alam yang mempesona. Atau
dari kata ‘mulkun/mamaluk’ artinya kepulauan itu banyak didiami raja-raja Islam
yang tersebar di berbagai pelosok Maluku. Sepertinya, makna kedua ini lebih
tepat karena kesesuaiannya dengan keadaan kepulaun Maluku yang hingga kini
masih ada raja-raja Islam di berbagai desa Maluku.
Awal kedatangan Portugis di Maluku di sambut baik oleh
Sultan Khairun dan Sultan Mansur, pemimpin Ternate dan Tidore. Karena de
Mesquita sebagai Gubernur Perancis berjanji hanya untuk berdagang. Namun
kenyataannya, sangat mengecewakan, Portugis ternyata membonceng para
misionaris. Salah satunya Franciscus Xaverius, mereka mengkristenkan kaum
muslimin dengan cara paksa. Perdagangan rempah-rempah rakyat dijarah paksa oleh
Portugis. Dengan lalim mereka menghukum rakyat muslim Maluku.
Keadaan di atas membuat Sultan Khairun menyerukan
jihad melawan penjajah Katolik Portugis. Pertempuranpun tidak dapat dielakkan,
semua orang Kristen baik Portugis atau pribumi diusir dari kesultanan Ternate,
karena telah mengkhianati perjanjian. Peristiwa ini mengingatkan pengusiran
Yahudi Bani Qainuqo’ dan Nadhir oleh Rasulullah SAW, karena pengkhianatan
terhadapperjanjian dengan kaum muslimin di Madinah. Sejarah terulang.
Dengan semangat jihad fi sabilillah umat Islam Maluku
mampu membuat Portugis melemah. Dan Portugis meminta perundingan damai, sebuah
strategi licik yang selalu dijalankan oleh orang-orang kafir ketika mereka
kewalahan menghadapi kaum muslimin. Perjanjian damai diterima oleh Sultan
Khairun, dengan syarat, seluruh orang Kristen harus keluar dari ternate,
sekaligus tidak ada lagi kegiatan Kristenisasi di Ternate.
Namun pengkhianatan kafir Portugis terulang. Saat
resepsi peresmian perjanjian ini yang diadakan di rumah kediaman Gubernur de
Mesquita, seorang opsir Portugis menikam Sultan Khairun dari belakang yang
menyebabkan beliau gugur, berikut beberapa pengawal yang beliau bawa, hanya
sedikit yang mampu melarikan diri. Karena, memang saat itu mereka sedang lengah
tidak ada persiapan perang. Inilah kelicikan orang-orang kafir, dan akan
senatiasa terwariskan hingga akhir zaman.
Mereka lengah, tidak selalu bersiap-siaga. Padahal
Allah telah memerintahkan untuk senantiasa waspada dari tipu daya orang-orang
kafir,
“Dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang
senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan
harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa
atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan
karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu semua.”
(Q.S: An-Nisa’: 102)
Jihad, Cinta Mati Syahid dan Al-Wala’ wal Baro’
Jihad melawan penjajah dilanjutkan oleh putra beliau
Sultan Babullah. Beliau menyentakkan pedang pusaka warisan ayahnya dan
mengambil baiat (sumpah setia) dari umat Islam Ternate, untuk berjihad.
“Seluruh rakyat yang hadir dalam pelantikan Sultan ini, menyatakan kesetiaannya
(bai’ah) dengan penuh ruhul jihad dan mati syahid.” Tulis sejarawan
Islam, Abdul Qadir, mantan anggota DPR RI dalam ‘Perang Sabil Versus Perang
Salib’ (hlm. 3).
Pasukan Islam Ternate mulai menyerang Portugis-Katolik
dan Raja Bacan yang telah memberikan wala’nya (loyalnya) kepada
Portugis. Walau pernah ada hubungan kerabat dengan raja Bacan, Sultan Babullah
tetap memasukkan raja Bacan dalam barisan musuh, karena ia telah berpihak
kepada tentara kafir, Portugis. Inilah tuntutan iman (al-wala’ wal baro’)
sesungguhnya
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah
dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang
Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau
saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah
menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462]
yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap
mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah
golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan
yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22)
Ketika Jihad, cinta mati syahid dan aqidah al-Wala’
wal Baro’ melekat dalam hati seorang pejuang, kemenangan dari Allah segera
terwujud. Sejarawan Abdul Qadir bersaksi, “Berkat semangat mati syahid, pasukan
Islam ternate berhasil membakar benteng pertahanan Portugis di Ambon. Dan umat
kristiani Ambon yang panic, takut disembelih pasukan Islam, dijamin keamanannya
oleh Sultan Babullah, diampuni, tidak dipaksa masuk Islam, asalkan mereka sudi
hidup damai dibawah bimbingan Kesultanan Islam Ternate.”
Sedangkan tentara dan misionaris Portugis yang
terjebak di benteng Portugis Ternate, tidak berani keluar, penyakit dan
kelaparan menimpa mereka. Sultan Babullah pun menjanjikan bantuan dan kebebasan
bagi mereka dengan syarat, mereka mengakui kekalahannya, menyerahkan Gubernur
de Mesquita ke pasukan Islam, untuk di qishosh.
Akhirnya 1575 M, tentara Portugis menyerahkan diri ke
pasukan Islam Ternate. Dan berkibarlah bendera Islam di benteng itu selama-lamanya
menggantikan bendera Portugis.
Demikianlah, jihad, cinta mati syahid dan al-Wala’ wal
Baro’ telah menjadi budaya yang mendarah daging dalam tubuh pejuang Islam sejak
dulu kala. Menghapus ketiga perkara ini, sama halnya menggilas budaya bangsa ini
dan mencabut semangat anti penjajahannya.
Amirul Mukminin, dan Syari’at Islam
Masih di Daerah Timur, seorang pejuang Islam muncul
menyatukan Sultan-Sultan Makasar dan Bugis dibawah panji-panji Islam, dengan
menerapkan syari’at Islam secara penuh. Kesatuan ini menumbuhkan kekuatan
maritim yang menyaingi kekuatan Belanda. Tentu hal ini membuat Belanda menyulut
peperangan dengan Sultan Hasanuddin.
Pada tahun 1633 pasukan Kristen Belanda mengepung
pelabuhan Belanda dengan jalan blokade dan sabotase. Namun kecintaan terhadap
jihad telah melahirkan kekuatan luar biasa dalam jiwa muslim Makasar, sehingga
dengan mudah mematahkan blokade Belanda. Hal ini memaksa Belanda untuk meminta
perdamaian dengan Sultan Hasanuddin.
Namun pada tahun 1654 Belanda berkhianat, kembali
mengerahkan armada yang sangat besar untuk menyerang Makasar. Tetapi untuk
kedua kalinya pasukan Islam berhasil memukul mundur armada Kristen-Belanda.
Lalu Belanda membujuk beberapa Sultan untuk bekerja
sama, Gubernur Jenderal Brouwer berhasil membujuk Sultan Bugis Aru Palaka untuk
sama-sama menyerang Sultan Hasanudin, dengan imbalan Aru Palaka akan diangkat
menjadi Sultan Bugis di Bone secara penuh dan bersahabat hanya dengan Belanda.
Tentang jalannya peperangan ini, sejarawan Abdul Qadir bertutur,
“Pada tahun 1666 armada laut Belanda yang berkekuatan
20 buah kapal dengan prajurit
600 orang, dibawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman menyerang pasukan
Makasar dari laut dan pasukan Aru Palaka Bone yang dipersenjatai oleh Belanda
menyerang dari arah darat melalui Sopeng. Menghadapi serangan dari dua jurusan
pasukan Sultan Hasanuddin bertekad bulat untuk mati syahid, mempertahankan Islam
dan kehormatan kaum muslimin. Pertempuran dahsyat terjadi, perang tanding antara
pasukan Makasar dengan pasukan Aru Palaka berjalan sangat mengerikan dan pasukan
Belanda secara gencar menembakkan meriam-meriamnya dari laut, sehingga korban
berjatuhan tak terhingga banyaknya, terutama di pihak pasukan Makasar.
600 orang, dibawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman menyerang pasukan
Makasar dari laut dan pasukan Aru Palaka Bone yang dipersenjatai oleh Belanda
menyerang dari arah darat melalui Sopeng. Menghadapi serangan dari dua jurusan
pasukan Sultan Hasanuddin bertekad bulat untuk mati syahid, mempertahankan Islam
dan kehormatan kaum muslimin. Pertempuran dahsyat terjadi, perang tanding antara
pasukan Makasar dengan pasukan Aru Palaka berjalan sangat mengerikan dan pasukan
Belanda secara gencar menembakkan meriam-meriamnya dari laut, sehingga korban
berjatuhan tak terhingga banyaknya, terutama di pihak pasukan Makasar.
Dalam kondisi yang demikian, Sultan Hasanuddin
mengundurkan pasukannya sambil
melakukan konsolidasi yang lebih baik. Setelah konsolidasi dilakukan, pertempuran
dimulai lagi dengan penuh semangat mati syahid. Tetapi karena kekuatan tak seimbang,
baik dalam bentuk jumlah pasukan maupun persenjataan, akhirnya pada tahun 1667
menyerahlah Sultan Hasanuddin. Penyerahan Sultan ini tertuang dalam “Perjanjian
Bongaya”
melakukan konsolidasi yang lebih baik. Setelah konsolidasi dilakukan, pertempuran
dimulai lagi dengan penuh semangat mati syahid. Tetapi karena kekuatan tak seimbang,
baik dalam bentuk jumlah pasukan maupun persenjataan, akhirnya pada tahun 1667
menyerahlah Sultan Hasanuddin. Penyerahan Sultan ini tertuang dalam “Perjanjian
Bongaya”
Menurut sejarawan Nabilah Lubis, dampak dari
perjanjian Bongaya adalah syari’at Islam tidak berlaku lagi dikalangan
masyarakat Sulawesi Selatan, dan dikembangkan lagi maksiat, seperti; judi,
sabung ayam, minuman keras ballo, madat dan pemujaan berhala.
Kekalahan umat Islam di Makasar ini mengakibatkan
sebagian panglimanya memilih hijrah dan bergabung dengan pejuang Islam di Jawa.
Misalnya, Kraeng Galesung bergabung dengan Trunojoyo di Jawa Timur, ulama
sekaligus panglima Syaikh Yusuf bergabung dengan Sultan Ageng Tirtayasa di
Banten, untuk melawan Belanda. Syaikh Yusuf diambil menantu sekaligus diangkat
sebagai mufti oleh Sultan Ageng.
Jihad melawan Belanda berawal dari perampokan
kapal-kapal Banten yang pulang dari perniagaan oleh Belanda. Perang pun tidak
bisa dihindari, Belanda yang dibantu oleh Sultan Haji, putra Sultan Ageng yang
berkhianat diserang oleh pasukan Islam dibawah pimpinan Sultan Ageng.
Walau Sultan Haji darah dagingnya, ia tetap dimasukan
sebagai musuh karena telah berwala’ (loyal) kepada orang-orang kafir
Belanda. Di sinilah nilai aqidah tertanam kuat dalam setiap pasukan Islam
Banten, bahwa siapa saja yang loyal kepada orang kafir, maka ia dihukumi/diperangi
sebagaimana orang kafir.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu);
sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa
diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka.” (al-Maidah:51)
Jihad melawan penjajah kafir-Belanda di Banten sangat
lama, dan sangat merugikan pihak Belanda. Walau pada akhirnya Belanda berhasil
memadamkan jihad ini, namun setidaknya para pahlawan Banten menegaskan bahwa
jihad dan al-Wala’ wal Baro’ adalah ideology dan budaya mereka.
Jihad Amirul Mukminin Diponegoro
Diwaktu yang hampir bersamaan dengan jihad rakyat
Banten, di Jawa dan Yogyakarta juga berlangsung jihad yang dipimpin oleh
seorang Pangeran soleh, santri militant, yang mendapat gelar, Sultan Abdul
hamid Herucokro Amirul Mukminin Sayidin Panotogomo Khalifatullah tanah Jawi.
Beliau bersama bersama ulama seperti kiyai mojo….
Kiyai Mojo, oleh KH Syaifuddin Zuhri diyakini sebagai
penasehat Diponegoro sekaligus inspirator jihad fie sabilillah. Bersana
anaknya, Kiyai Gazali dan santri-santrinya beliau bergabung dnegan pasukan
Pangeran Diponegoro berjihad melawan Belanda.
Salah satu tujuan jihad diponegoro adalalah menegakkan
syari’at Islam, ini dapat diketahui dari syarat perdamaian yang diajukan oleh
Diponegoro kepada Jenderal De Kock, yaitu, “Mendirikan Negara Merdeka dibawah
pimpinan Sultan Khalifatullah Amirul Mukminin Yang Disamping sebagai Kepala
Pemerintah juga Pengatur Agama Islam di pulau Jawa.”
Sejarawan Belanda, Louw, P.J.F, dalam De Java Oorlog
Van 1825 – 1830, mengisahkan pribadi Pangeran Diponegoro, “Sebagai seorang yang
berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali hingga mendekati keterlaluan.”
Turut serta berjihad bersama Diponegoro, seorang
pemuda bangsawan masih keturunan kraton Jogaj, Ali Basah Abdul Musthofa, dalam
sejarah dikenal dengan Sento Ali Basya. Basya, menurut sebagian sejarawan,
diambil dari kata ‘Pasya’ sebuah gelar perwira dari Khilafah Islam Turki
Utsmani.
Perang sabil yang diserukan oleh Pangeran Diponegoro,
dimulai dari desa Tegal Rejo, semua ulama, santri dan rakyat bergabung bersama
beliau, diantaranya Kiyai Mojo, putranya Kiyai Gazali dari Solo, Pangeran Abu
Bakar yang memimpin ulama dan santri dari Kedu, Muhammad Bahri penghulu Tegal
Rejo. Diponegoro meminta mereka untuk berbai’at (janji setia). (Perang Sabil Vs
Perang Salib, hlm. 16)
Walau sang Imam telah ditangkap Belanda pada tanggal,
28 Maret 1830 jihad di Jawa tetap berlangsung dibawa pimpinan para alim ulama
dan panglima-panglima pasukan Islam Diponegoro yang menolak menyerah kepada
Belanda.
Ulama-Ulama Mujahid
Bersamaan dengan jihad diponegoro juga berlangsung
jihad melawan Belanda di Sumatera Barat yang dipimpin oleh ulama karismatik,
Haji Miskin. Awalnya beliau berdakwah menyebarkan tauhid, namun mendapat penentangan
dari kaum adat. Sehingga beliau hijrah ke Ampat Angkat. Di sini beliau mendapat
sahabat dan dukungan dari para pemuka kampong. Lalu beliau mengambil bai’ah
dari tujuh ulama dan tokoh yang mendukung beliau untuk bahu membahu menyebarkan
dakwah tauhid. Jadi jumlah mereka semuanya menjadi delapan orang, sehingga
gerakan yang telah berbai’at ini dinamakan, ‘Harimau Nan Sanalapan’.
Dalam Perang Sabil VS Perang Salib disebutkan,
mula-mula mereka berpikir untuk bisa melaksanakan syari’at Islam secara utuh
dan murni. Untuk itu tidak ada alternatif lain kecuali dengan kekuasaan
politik. Sejak saat itu gerakan mereka bukan saja gerakan dakwah, tapi juga
politik.
Setelah menguasai beberapa daerah, kaum padre sebutan
lain bagi pengikut Harimau Nan Sanalapan, membentuk mahkamah syar’ie dan
mengangkat imam yang bertugas untuk memimpin sholat, puasa dan ibadah-ibadah
mahdoh lainnya. Juga mengangkat Qodhi, yang bertugas untuk melancarkan
pelaksanakan mahkamah Islam.
Dari sekian santri Padri, terdapat seorang santri yang
pemberani, cerdas dan sholeh, beliau adalah Muhammad Syahab yang dikemudian
hari dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol. Beliaulah yang mengobarkan jihad
melawan pasukan salib Belanda.
Dibalik Perjuangan Indonesia
Realitas sejarah diatas menegaskan bahwa, jihad,
syari’at Islam dan al-wala’ wal baro’ adalah budaya leluhur bangsa Indonesia.
Masih banyak corak perjuangan indonesia yang dibangkitkan atas dasar jihad fie
sabilillah, misalnya perang Aceh yang dikenal dengan perang sabil. Kurang lebih
40 tahun perang fi sabilillah dikobarkan oleh para mujahid dan mujahidah Aceh.
Tengku Umar, Tengku Cik Di Tiro, Cut Meutia, Cun Nyak
Din. Perang Aceh termasuk medan yang sangat menerikan bagi Belanda. Perlawanan
ini dipimpin oleh para alim ulama dan para Sultan. Hampir tiap malam, markas,
pasukan patrol dan pos penjaga Belanda di Ambus oleh tentara Islam Aceh.
Keberanian dan kecakapan umat Islam Aceh melawan Belanda yang kala itu termasuk
memiliki perlengkapan tempur yang mutakhir, tidak lepas dari keyakinan mereka bahwa
itu adalah jihad dan yang meninggal adalah syahid. Karena mereka meyakini bahwa
perang itu adalah melawan kape’-kape’ (kafir-kafir) Belanda.
Sejarawan Ahmad Mansur Surya Negara dalam ‘Api
Sejarah’(1/183), menukil pengakuan M.C Rifleks –sejarawan Belanda-, bahwa sebab
kesulitan Belanda memadamkan perang Jawa, seperti Trunojoyo, adalah karena
keyakinan kuat yang mengakar pada muslimin Jawa, bahwa tanah Jawa tidak akan
diberkahi oleh Allah swt selama orang beragama Kristen tinggal di tanah Jawa.
Semangat jihad dan syari’at Islam dapat dilihat pada
perang Banjar di Kalimantan. Pada tahun 1859, umat Islam Banjar yang dipimpin
oleh seorang santri militant, Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayat.
Pada pertama kalinya, Pangeran Hidayat masih ragu
untuk ikut serta dalam perjuangan melawan Belanda. Menurut beliau, itu adalah
sebuah pemberontakan, menumpahkan darah rakyat sia-sia. Namun setelah
dijelaskan oleh Pangeran Antasari dalam dialoga panjang bahwa itu adalah jihad
membebaskan rakyat Banjar dari penjajah kafir, akhirnya Pangeran Hidayat
terbuka hatinya.
“Adapun pertumpahan darah yang kau khawatirkan itu
sebenarnya belum terjadi. Agama kita membenarkan peperangan ini sebagai perang
Sabil. Dan kematian yang menjadi resiko perjuangan ini adalah tidak sia-sia, ini
mati syahid. Kita hidup untuk Allah dan mati untuk Allah.” Tegas Sultan
Antasari meyakinkan Pangeran Hidayat.
Dan tahun 1860 jihad di Banjar bergelora, dipimpin
langsung oleh dua Pangeran Putra Mahkota Banjar. Bersama ulama lainnya seperti,
Haji Buyasin, dan Pangeran Amrullah, umat Islam menyerang markas-markas kafir
Belanda.
Tahun 1862 secara resmi Pangeran Antasari diangkat
sebagai, ‘Amiruddin Khalifatul Mukminin’. Dan menjadikan ‘Hidup untuk Allah dan
Mati untuk Allah’ sebagai perjuangannya. Ayat 162 surat al-An’am benar dipahami
dan dilaksanakan dengan baik oleh Pangeran Antasari, yaitu;
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku,
hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Sejarawan Islam, Abdul Qadir menyimpulkan perang
Banjar, Perang Banjar dari 1859 hingga 1905, jelas sekali landasan ideologi
yang mereka perjuangkan adalah Islam, dengan semboyan, ‘Hidup untuk Allah dan
Mati untuk Allah’. Dengan jalan perang sabil, dibawah pimpinan seorang
Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Dengan kata lain perang Banjar adalah
perang untuk menegakkan Negara Islam yang utuh.
Bahkan sepuluh November pun tidak lepas dari nilai
jihad fi sabilillah. Teriakan ‘Allahu Akbar’ bung Tomo adalah yel-yel jihad,
sepertinya beliau menyadari bahwa jalan untuk memerdekan Indonesia dari
kafir-kafir penjajah adalah dengan jihad, bukan dengan yang lain. Ini
dibuktikan, bahwa beliau tidak pernah meneriakkan ‘Yesus, Amintaba, Pancasila
apalagi Haleloya.” * (An-Najah)




0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !